28 Mei 2009

Impressive Frame Bar Athens by Dimitris Tsigos

This Impressive Frame Bar was designed by architects Dimitris Tsigos. Frame Bar is the main bar of the st George lycabettus hotel, located in kolonaki, Athens. The main aim of the design was to recreate the usual typologies of chairs, benches, bars stands, tables and coffee tables using forms that morph from one geometry to the other, thus denying determined typology – activity associations. The main materials used are heat-formed starron (corrian equivalent) and the Spanish marble known as emperador.

This was achieved by using advanced parametric design techniques which led to the specification of a series of poly – surfaces, ultimately constructed out of thermo – formed staron. The geometrical continuity is retained throughout the design, ultimately offering a continuous interior topography that assumes different geometrical specifications in relation to specific programmatic intentions.

29 April 2009

MEI ULANG TAHUNKU....






Segenap jiwa lantunkan kemerduan suara hati
Lembut mengalun sambut hari bahagiamu
Segala panjat doa dan harap terukir untukmu
Semoga tercapai segala cita dan cintamu

Hari ini kuingin ada sebuah kebahagiaan
Terpancar dari bening sorot matamu
Saat kuucapkan tulus dari palung hati yang terdalam
Selamat Ulang Tahun … Kawan

HERU BINTONO - 1 Mei
PRASASTO SATWIKO - 1 Mei
ANDI PRIYATNO - 6 Mei
MARKUS SUGIHARDJO - 15 Mei
IMAM MOCHTAR - 22 Mei
JUNAEDI ARSYAD - 25 Mei
STEPANUS "JACK" KISWANTO - 27 Mei
RUDI POERNAWARMAN - 31 Mei

18 Maret 2009

Kepemilikan Tanah di DIY Perlu Dibatasi















YOGYAKARTA - Pemilikan tanah dan harga jual tanah di wilayah Provinsi DI Yogyakarta diusulkan agar dibatasi. Ini untuk mengerem terjadinya proses komodifikasi, komersialisasi, privatisasi, dan kapitalisasi tanah di DIY yang dinilai sudah berjalan tanpa terkendali.
"Pola pemilikan tanah di Yogyakarta menunjukkan ketimpangan. Ini salah satunya disebabkan oleh segelintir orang yang menguasasi tanah terlalu banyak. Untuk DIY penting membatasi kepemilikan tanah, baik untuk penduduk DIY maupun luar DIY," ungkap Ketua Program Magister Perencanaan Kota dan Daerah (MPKD) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Bakti "Bobby" Setiawan, dalam diskusi Kebijakan Pembangunan dan Perencanaan Ruang Berbasis Lingkungan di Provinsi DIY, di DPRD DI Yogyakarta.
Bobby mengatakan, tanpa ada intervensi dari pemerintah daerah dan DPRD untuk mengendalikan harga dan pemilikan luas tanah, dikuatirkan akan memicu kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial. Sebab, secara umum pembangunan perumahan di DIY oleh pengembang cenderung mengabaikan tata ruang dan keseimbangan lingkungan karena hanya mencari tempat-tempat paling menguntungkan. "DIY adalah daerah yang dari sisi lingkungan sensitif, rentan terhadap kerusakan lingkungan. Intervensi itu perlu untuk mengurangi ancaman kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial," katanya.
Bobby menuturkan, tanah di Yogyakarta saat ini sudah dikontrol kekuatan pasar. Harga tanah di tempat-tempat strategis mencapai jutaan rupiah. Ia mencontohkan, harga tanah di sekitar kampus UGM telah mencapai Rp 3 juta per meter persegi. Bahkan, tanah di pinggir sungai Code ada yang mencapai Rp 1 juta per m2. Dengan jumlah penduduk sekitar 3,4 juta dan luas wilayah yang terbatas yaitu 318.580 hektar, maka perlu ada pembatasan pemilikan luas lahan agar ada distribusi tanah secara adil.
Sudaryono, Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik UGM mengatakan, sejak tahun 1990 terjadi perubahan mendasar dalam pemilikan tanah di DIY. Pemilikan tanah bukan lagi didasarkan untuk memenuhi kebutuhan, namun sudah mengarah spekulasi, seperti pemanfaatan tanah untuk ruko maupun perumahan meski tidak semuanya terjual. Kekuatan pasar telah menciptakan tata ruang yang sifatnya sporadik dan spontan. "Saat ini ada krisis identitas dari orang-orang birokrasi pemerintah untuk bertata ruang," katanya.